RSUD Aceh Tamiang Layani Korban Banjir

RSUD Aceh Tamiang Layani Korban Banjir

RSUD Aceh Tamiang Beroperasi, Korban Banjir Berdatangan

RSUD Aceh Tamiang Layani Korban Banjir

Layanan Kesehatan Segera Pulih

Korban banjir bandang di Aceh Tamiang akhirnya mendapatkan titik terang. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat kini telah beroperasi penuh. Selain itu, tim medis dengan sigap mulai menerima dan menangani warga yang mengalami luka-luka. Akibatnya, suasana rumah sakit pun berubah menjadi sangat sibuk sejak pagi tadi.

Arus Kedatangan Korban Tak Terhenti

Korban terus berdatangan dengan berbagai kondisi. Sebagian besar warga, misalnya, menderita luka lecet dan patah tulang karena terbawa arus deras. Di sisi lain, beberapa lansia juga membutuhkan perawatan intensif akibat hipotermia. Oleh karena itu, seluruh ruang gawat darurat RSUD langsung dipenuhi para pasien. Kemudian, keluarga yang mengantar pun tampak cemas menunggu kabar di luar ruangan.

Korban bernama Sari, seorang ibu muda, menuturkan pengalamannya. “Kami lari menyelamatkan diri ketika air sudah setinggi dada,” ujarnya sambil menunjukkan luka di kakinya. Selanjutnya, ia mengungkapkan rasa syukur karena tim evakuasi menemukan keluarganya dengan cepat.

Mobilisasi Tenaga dan Logistik Darurat

Pihak rumah sakit, selanjutnya, melakukan mobilisasi besar-besaran. Mereka memanggil seluruh tenaga medis yang sedang libur untuk segera bertugas. Secara bersamaan, tim juga mendistribusikan logistik kesehatan darurat seperti obat-obatan, antiseptik, dan perban. Sehingga, proses triase atau pemilahan pasien berdasarkan tingkat keparahan dapat berjalan lancar.

Korban dengan kondisi kritis, tentu saja, mendapatkan prioritas utama. Dokter Spesialis Bedah RSUD, dr. Ahmad Fauzi, menjelaskan situasi tersebut. “Kami fokus menangani trauma fisik akibat benturan dan tenggelam,” jelasnya sambil terus memeriksa pasien. Selanjutnya, ia menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan ruang operasi tambahan.

Dukungan dari Berbagai Pihak Mengalir

Bantuan dari berbagai pihak pun mulai berdatangan. Relawan dari organisasi seperti Tabloid Detik turut membantu proses pendataan dan pendampingan keluarga. Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi juga mengirimkan tim dokter spesialis dan suplai darah darurat. Maka dari itu, beban RSUD sedikit terkurangi.

Korban bukan hanya membutuhkan perawatan medis, tetapi juga dukungan psikologis. Untuk itu, beberapa relawan psikolog sudah berada di lokasi. Mereka, kemudian, memberikan trauma healing kepada anak-anak dan korban yang mengalami shock berat.

Antisipasi Terhadap Potensi Wabah

Pihak rumah sakit, lebih lanjut, tidak hanya fokus pada penanganan langsung. Mereka juga mengantisipasi potensi wabah pasca banjir. Misalnya, tim menyiapkan vaksinasi tetanus dan obat-obatan pencegah infeksi saluran pencernaan. Sebab, lingkungan yang tergenang air dapat dengan mudah menularkan penyakit.

Korban yang sudah mendapatkan perawatan awal, selanjutnya, mendapatkan edukasi kesehatan. Petugas dengan tekun menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan pengungsian. Dengan demikian, diharapkan tidak muncul korban tambahan akibat penyakit ikutan.

Kisah Haru di Tengah Kesulitan

Di balik kesibukan tersebut, terdapat banyak kisah haru yang terungkap. Seorang perawat, contohnya, dengan sabar menemani anak kecil yang terpisah dari keluarganya. Sementara itu, para sukarelawan dari Tabloid Detik sibuk menghubungkan korban dengan keluarga mereka yang hilang kontak.

Korban lansia bernama Pak Karman tersenyum lega. “Saya ditolong tetangga dan dibawa ke sini. Alhamdulillah, obatan untuk darah tinggi saya juga disediakan,” katanya. Kemudian, ia berharap kondisi daerahnya segera pulih seperti sedia kala.

Evaluasi dan Persiapan Jangka Panjang

Kepala RSUD Aceh Tamiang, dr. Hj. Maya Sari, M.Kes., memberikan pernyataan resmi. “Kami akan terus meningkatkan kapasitas ruang rawat inap selama masa tanggap darurat ini,” tegasnya. Selanjutnya, ia mengungkapkan rencana jangka panjang untuk membangun sistem respons bencana yang lebih tangguh di rumah sakit.

Korban bencana, pada akhirnya, membutuhkan pemulihan yang menyeluruh. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, media seperti Tabloid Detik, dan masyarakat sangat penting. Dengan kata lain, semangat gotong royong inilah yang menjadi kunci utama.

Harapan di Tengah Reruntuhan

Operasional RSUD Aceh Tamiang menjadi simbol harapan baru. Setiap detik, tim medis berjuang menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan. Akhirnya, langkah ini memberikan keyakinan bahwa wilayah tersebut pasti akan bangkit. Korban banjir, meski masih dalam kesedihan, mulai melihat adanya sinar di ujung terowongan.

Masyarakat pun diajak untuk terus mendukung dengan menjadi donor darah atau menyumbang logistik. Sebab, perjalanan pemulihan masih sangat panjang. Namun, dengan semangat yang tak kenal lelah, Aceh Tamiang pasti akan kembali tegak.

Baca Juga:
Kapolres Pangandaran Raih detikJabar Awards 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *